RESESI DAN METAFORA PEMIMPIN TANPA KE-PEKA-AN, Sebuah Analogi Kepemimpinan Negeri

Republiksatu.com, Jakarta; KISAH tentang tenggelamnya kapal Titanic dapat dikatakan sebagai sebuah miniatur karamnya sebuah peradaban bangsa. Kisah Titanic dapat juga dikatakan sebagai metafora tentang kapten kapal atau pemimpin pekok yang mengabaikan early warning system (sistem peringatan dini). Orang yang pekok itu pasti pokoke, ngeyel dan bebal. Biasanya tak bisa diberitahu. Mengidap sindrom “sok tau” yang sangat akut. Gejala orang pekok itu tampak ceroboh, sombong dan meremehkan keadaan beresiko tinggi yang sedang dihadapi, demikian yang disampaikan Haris Rusly Moti adalah aktivis Petisi 28 dan Kepala Pusat Pengkajian Nusantara Pasifik-PPNP, saat di hubungi via telpon genggamnya, Selasa, 25 Februari 2020.

“Jika manusia pekok seperti itu menjadi pemimpin negara atau kapten kapal, maka resikonya kapal atau negara tersebut dapat bernasib naas. Akibat kecerobohannya, kapal yang dinakhodainya bisa karam dan tenggelam. Demikian juga negara yang dipimpinnya bisa menuai perang saudara akibat keputusan atau kebijakan yang dibuatnya”tutur Haris

Menurutnya, Karena itu tak salah jika Mbah Suparni (80-an tahun) dari Kulonprogo menyampaikan petuah agar tidak menjadi pekok atau pokoke. Petuah Mbah Parni itu kemudian pernah viral di media sosial tahun 2017. "Wong urip neng alam donya niki janji mboten pekok, pikiran digawe encer, senajan ra duwe ya bisa nyandhang, bisa madhang, bisa netepi kelumrahan. Ning nek wong pekok kancane setan. Nek mboten pekok setan ra doyan”. Artinya "Orang hidup di dunia ini asal tidak tolol atau ngeyel, pikiran tetap encer. Meskipun tidak punya, ya tetap bisa berpakaian, bisa makan, bisa mengikuti “kelumrahan” hidup. Namun kalau tolol atau ngeyel akan menjadi teman setan. Kalau tidak tolol atau ngeyel, setan tak berani mendekat”.

Jika kita cermati keadaan bangsa, tambah Hary,  saat ini, maka dapat disimpulkan, Pertama, sebagian besar manusia Indonesia telah kehilangan kepekaan terhadap situasi, tak ada sense of crisis. Semuanya larut dalam pesta politik jangka pendek, Pilkada, Pileg dan Pilpres. Sebagian besar merasa bahwa segalanya berjalan baik-baik saja. Padahal, mereka sedang dalam bahaya, dimana keadaan sedang tidak hanya penting, tetapi juga genting.

Kedua, para pemimpin negara dan pimpinan partai politik, persis seperti Destarata yang matanya buta. Sebagian besar tak melihat adanya situasi bahaya di depan mata mereka. Mereka tak peduli lagi dengan peringatan yang disampaikan oleh berbagai kalangan tentang ancaman krisis di depan mata. Bahkan setiap kritik yang disampaikan secara jernih dianggap sebagai upaya menyudutkan dan mendiskreditkan pemerintah yang sedang berkuasa.

“Baik presiden, parlemen, para penyelengara negara dan pimpinan Parpol, tidak punya lagi kepekaan terhadap krisis (sense of crisis) yang melanda bangsa kita. Presidennya terjebak di dalam ke-pekok-an dan kekonyolannya. Sementara pihak parlemen dan Parpol oposisi juga telah terjebak di dalam irama oposisi reality show, sibuk dengan show dan melupakan tugas pokok dan fungsi parlemen. Semua langkah politik tersebut semata ditujukan untuk men-top up elektabilitas dari capres, parpol maupun caleg.”tukas Hary

 

Selain itu, ia juga menuturkan bahwa early warning system (sistem peringatan dini) sudah tidak lagi berfungsi melakukan pengindraan terhadap situasi yang akan dihadapi. Jika sistem negara telah rusak, maka sistem peringatan dininya otomatis tidak akan bekerja untuk menyampaikan warning adanya situasi bahaya yang menghadang.

Fungsi intelijen negarapun, Kata Hary,  dapat dianggap telah lumpuh dan berganti menjadi intelijennya penguasa untuk mempertahankan estabilitas. Padahal salah satu fungsi intelijen negara berkaitan dengan pengindraan terhadap situasi ekonomi, politik, keamanan dan pertahanan yang akan mengancam perjalanan bangsa, atau yang dikenal dengan sistem peringatan dini. Dengan tidak berjalannya fungsi intelijen negara menyebabkan pembuat kebijakan tidak lagi memiliki kewaspadaan dini terhadap situasi bahaya yang mangancam keselamatan rakyat dan bangsa. Jika sistem negaranya persis seperti kapal yang telah jadi rongsokan. Jika pemimpin negaranya juga pekok dan pokoke. Jika anggota parlemennya berubah peran jadi artis reality show (persis seperti Uya Kuya). Lalu ditambah lagi dengan fungsi intelijen negara yang kapasitas pengindraannya berjarak sangat pendek, paling maksimal hanya bisa menebak situasi di satu bulan ke depan. Maka dapat disimpulkan nasib bangsa kita dapat saja mengikuti nasibnya wangsa kuru yang dilanda perang saudara (Mahabarata), atau dapat juga bernasib seperti kapal Titanic yang karam lalu tenggelam ke dasar lautan.

“Jika tak mampu bersatu untuk mengganti kapten kapal yang pekok dan pokoke. Maka demi keselamatan bersama, masing masing kita segera menyiapkan pelampung atau sekoci, untuk mengantisipasi jika kapal yang kita tumpangi saat ini dikejutkan oleh badai dan karam lalu tenggelam,”pungkas Harry, yang juga mantan Aktivis HMI di era tahun 1990-an ini.

 

 


0 Comments


Leave a Comment