Di MUSIM PILKADA 2020 SOLO DAN TANGERANG SELATAN AKAN ALAMI OLIGARKI PARPOL LAHIRKAN DINASTI POLITIK

Republiksatu.com, Tangerang Selatan

Baru-baru ini, masyarakat di pertontonkan, adanya fenomena  wujudnya tindakan tangan besi kekuasaan, tindakan itu menimpa  Wakil walikota Solo (incumbent) diminta mundur dari pencalonan Pilwalkot Solo. Gak kepalang tanggung, dipanggil ke  istana. Tujuannya, anak presiden harus mulus dan lolos. Miris memang.Bahkan aspirasi warga PDIP Solo dukung Wawalkot (incumbent) ditolak partai. Makin kentara negara ini milik partai tertentu, demikian di katakana Mathar Kamal Pengamat Budaya Demokrasi, saat di hubungi melalui telpon selularnya, Senin, 27 Juli 2020 di Tangerang Selatan.

“Rakyat pun nampaknya dipaksa terima calon pemimpin yang tidak disukai, tidak kapabel, tidak layak deh. Semua strategi calon itu nantinya bukan untuk disukai warga, tim mereka akan banting tulang dengan segala cara menang. Rakyat, wargapun bakal kecele ketika si calon benar-benar jadi pemimpin kotanya,”Ungkap Mathar

Menurutnya Oligarki istilah populer sekarang memaksa rakyat terima pemimpin yang gak pantas jadi pemimpin. Coba saja lihat. Wakil walikota sangat tahu seluk beluk kota itu. Kondisi sosial ekonomi, politik dan kebangsaan, kepemimpinan birokrasi, urusan yang membebani kota itu dan harus diselesaikan dengan keahlian dan dukungan warga, tapi ditolak penguasa (belum tentu warga menolaknya). Bandingkan dengan bocah yang kagak ngerti apapun tentang memimpin sebuah kota, sebuah pemerintahan daerah. Sungguh merusak akal sehat dan demokrasi. Solo sulit dibahas jika memang warganya sendiri masa bodoh.

“Selain Solo, kita dipertontonkan oligarki lain, di Kota Tangerang Selatan (jika anaknya Wapres Ma'ruf Amin dipaksakan nyalon). Maka Tangerang Selatan akan di hadapkan masalah oligarki Parpol”tukas Mathar.

 Mathar juga menjelaskan bahwa Tangerang Selatan merupakan kota baru yang berimbang kapasitas penduduk intelektual dan ekonomi tinggi. Sebagian, kelas ekonomi bawah dan kaum urban Jakarta, Tangerang Selatan juga memunculkan calon lain, Wakil Walikota dan Sekda-nya, meski belum diketahui kendaraan partainya apa. Ini menarik juga dibahas, khususnya sang Doktor putri Wapres. Pada dasarnya Tangerang Selatan sama aja dengan Solo. Penguasaan wilayah, tentunya dimiliki oleh Wakil Walikota atau Sekda. Sedangkan putri Wapres hanya andalkan pangaruh bapaknya saja. Sangat minim pengalaman, apalagi sual birokrasi dan kepemimpinan daerah, sebenarnya harus buka mata warga Tangerang Selatan. Apabila itu terjadi maka Solo dan Tangerang Selatan adalah fakta pemaksaan oligarki, selain memaksa anak-anak penguasa untuk berkuasa di daerah. Impilkasi dari fenomena itu adalah terjadinya Kemunduran demokrasi, sangat nyata terlihat. Sangat disayangkan, untuk menjadi pemimpin, bspak-bapak mereka begitu serius ngemong, gendong dan menuntunnya. Kita tak pernah melihat anak-anak mereka berinteraksi sosial, memikirkan masyarakat, Apa yang dipertontonkan sungguh memprihatinkan, bisa disebut perusakan demokrasi, sampai  begitu berkuasanya partai politik. Ini sebagai isyarat Indonesia semakin sulit mengembalikan kedaulatan rakyat.

“Jangan mimpi daerah-daerah itu akan lebih baik ditangan anak asuhan Bapak yang penguasa. Yang utama, warga, rakyat diuji akal sehatnya dalam memilih pemimpin. Diuji partisipasinya dalam membangun wilayah nya secara kebersamaan, tanpa tekanan, tanpa pengaruh pencitraan,”pungkas Mathar Kamal.


0 Comments


Leave a Comment