Taman Ismail Marjuki Riwayatmu Kini, Di Gerus Revitalisasi

Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki yang populer disebut Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan sebuah pusat kesenian dan kebudayaan yang berlokasi di jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Di sini terletak Institut Kesenian Jakarta dan Planetarium Jakarta. Selain itu, TIM juga memiliki enam teater modern, balai pameran, galeri, gedung arsip, dan bioskop. Acara-acara seni dan budaya dipertunjukkan secara rutin di pusat kesenian ini, termasuk pementasan drama, tari, wayang, musik, pembacaan puisi, pameran lukisan dan pertunjukan film. Berbagai jenis kesenian tradisional dan kontemporer, baik yang merupakan tradisi asli Indonesia maupun dari luar negeri juga dapat ditemukan di tempat ini. Nama pusat kesenian ini berasal dari nama pencipta lagu terkenal Indonesia, kemudian Diresmikan pembukaannya oleh Gubernur Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta Jenderal Marinir Ali Sadikin, tanggal 10 November 1968. TIM dibangun di atas areal tanah seluas sembilan hektare. Dulu tempat ini dikenal sebagai ruang rekreasi umum ‘Taman Raden Saleh’ (TRS) yang merupakan Kebun Binatang Jakarta sebelum dipindahkan ke Ragunan. Pengunjung ‘TRS’, begitulah sejarah singkat tentang Taman Ismail Marjuki, namun demikian kini keberadaan TIM menjadi polemik, terutama di kalangan seniman, pencinta seni dan juga tentunya warga Jakarta yang memanfaatkan TIM sebagai ajang untuk bersilaturahmi, berkreasi dan menampilkan berbagai karya seni,

Namun sejak adanya kebijakan Gubernur Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan revitalisasi TIM berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1018 Tahun 2018, Berbagai polemik belakangan ini muncul terkait revitalisasi TIM. Sejumlah seniman menolak proyek yang digagas PR Jakarta Propertindo (Jakpro). Forum Seniman Peduli TIM pada Senin, 17 Februari 2020 lalu mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat. Para seniman yang sudah lama berkegiatan di TIM itu merasa sama sekali tak diajak bicara sebelum pembongkaran Gedung Graha Bhakti Budaya dan Gedung Cipta.

Namun yang lebih mengecewakan lagi  Dewan Kesenian Jakarta sebagai representasi seniman di DKI Jakarta tak dilibatkan dalam proses pembahasan revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM), hal ini di katakan Pelaksana Tugas Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Danton Sihombing mengatakan nama orang-orang yang dikirimkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dicoret. Walhasil, tak ada perwakilan dari DKJ dalam tim revitalisasi TIM yang dibentuk

“Nama yang diajukan dicoret entah oleh siapa sehingga DKJ dieliminir dalam wilayah diskusi revitalisasi,” ujar Danton kepada pers, Jumaat, 21/2/2020

Danton menyebut DKJ telah mengirimkan 3 nama, termasuk dirinya, sebagai perwakilan dalam tim revitalisasi Taman Ismail Marzuki pada 2018. Kala itu Danton menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DKJ. Sebagai gantinya, DKI memasukkan lima orang seniman yang tercatat sebagai perwakilan dalam revitalisasi TIM. Kelimanya adalah Arie Batubara, Arsono, Hidayat LDP, Yusuf Susilo Hartono, serta Mohammad Chozin.

Dalam Kepgub 1018 itu tertulis Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah DKI Jakarta sebagai ketua tim. Adapun wakilnya adalah Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, sekretaris Kepala Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta TIM, serta Kepala Bidang Seni Budaya Disparbud DKI dan lima orang perwakilan seniman sebagai anggota.

Dalam Kepgub yang ditetapkan pada 7 Juni 2018 itu dinyatakan bahwa kerja tim revitalisasi TIM berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan. Beberapa tugas anggota tim itu di antaranya melaksanakan forum diskusi, pertemuan, dan dengar pendapat dengan pihak terkait serta mengumpulkan dan mengolah data serta informasi terkait revitalisasi TIM.

Menurut Danton, tugas mengajak para seniman dalam sebuah forum diskusi menjadi penting dan kritis. Lantaran nama perwakilannya tak ada dalam Kepgub itu, Danton mengatakan DKJ tak mengetahui perkembangannya. “Selama setahun kami dibutakan informasi itu (revitalisasi TIM) sesuai dengan kerjanya SK itu,” ujar Danton.

Senasib dengan Dewan Kesenian Jakarta, forum seniman ini juga kecewa karena tidak dilibatkan dalam pemugaran pusat kesenian Jakarta itu. Berdasarkan laporan forum seniman peduli TIM, Komisi X DPR lantas sepakat untuk memanggil Gubernur Anies Baswedan, Jakpro, serta DPRD DKI Jakarta serta meminta moratorium revitalisasi TIM. Mereka juga hendak melakukan inspeksi dadakan ke proyek revitalisasi untuk melihat kondisi terkini di lapangan.

Dari ungkapannya tersebut, nampak adanya kegelisahan dari para seniman yang selama ini menjaga dan merawat bukan hanya bangunan, melainkan marwah dari sebuah kawasan bernilai budaya tinggi, sehingga menjadi cagar budaya yang mestinya di bangun dalam semangat pelestarian nilai-nilai kebudayaan, yang menjadikan warga Jakarta tumbuh berkembang dalam beragam seni budaya, serta berproses dalam mengenal, merawat serta melestarikan kebudayaan Indonesia, jika revitalisasi TIM terus berlanjut dalam rel kepentingan komersialisasi, kapitalisasi dan bahkan nilai-nilai lain yang meruntuhkan nilai budaya, maka TIM hanya menjadi musium tanpa nilai.


0 Comments


Leave a Comment