Warga Apresiasi Surat Edaran Ka. Disbud Provinsi DKI Jakarta,Soal Pelestarian Budaya Betawi

Republiksatu.com,Jakarta

“Saya ingin mengajak kita semua, sebagai warga DKI Jakarta utk sama-sama peduli akan masa depan Budaya Betawi. Perda 4/2015 tentang Pelestarian Budaya Betawi usianya sudah menginjak 5 tahun, tapi nyatanya, dalam keseharian kehidupan kita masih ada aktifitas/kegiatan dari sebagian masyarakat yang justeru membuat Budaya Betawi kita menjadi tambah prihatin. Simbol (icon) Betawi seperti Ondel-ondel yang dijadikan sarana mengemis telah menurunkan martabat kebetawian Kita.,”Iwan H. Wardhana Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, sesuai rilis yang di kirimnya melalui aplikasi Whatshap, Sabtu, 14 Maret 2020

Menurutnya, potensi masyarakat Betawi itu sungguh luar biasa, tidak ada keraguan. Untuk itu, di dalam hal penerbitan Surat Edaran ini, dirinya ingin mengetuk hati para Penjabat Pemerintahan maupun tokoh-tokoh masyarakat Betawi, utk mencari tahu akar permasalahan dan ikut berperan serta menunaikan kewajiban2 sebagaimana telah tertuang dalam Perda ini, yang  utamanya adalah menjaga, melestarikan nilai tradisi Betawi dan adat istiadat yang berkembang dalam Kebudayaan Betawi.

Sementara itu, menanggapi adanya surat edaran yang disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta tersebut, Ridwan alias Boim salah seorang Tokoh Muda Betawi mengatakan bahwa dirinya sangat mengapresiasi Surat Edaran yang di sampaikan Iwan H.Wardhana Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi dengan keluarnya Surat edaran yang isinya adalah suatu ketgasan komitmen dari Pemprov DKI Jakarta, dalam hal ini adalah Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, untuk menegakkan upaya pelestarian kebudayaan Betawi, di tengah gempuran dari berbagai budaya yang masuk di wilayah Provinsi DKI Jakarta,”ucap Boim yang juga Ketua Bamus Betawi Jakarta Utara ini. kepada republiksatu.com, saat di hubungi melalui telpon selularnya, Sabtu, 14 Maret 2020.

Menurutnya, selama ini memang kebudayaan Betawi terkesan terpinggirkan dan di anaktirikan, meskipun sudah ada Perda No.4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Budaya Betawi, namun realitasnya masih banyak persoalan yang menjadi hambatan untuk menjaga dan melestarikan Budaya Betawi, salah satunya adalah masalah belum terbangunnya kesadaran kolektif dari berbagai pihak, terutama dari pihak komponen masyarakat Betawi, untuk melakukan upaya kreatif dan inovatif agar budaya Betawi menjadi tuan di kampungnye, sehingga implikasinya, muncullah fenomena yang cenderung tidak berdayanya Budaya Betawi dari gempuran budaya lain yang masuk di Ibukota Negara ini.

“Ya, yang penting adalah kesadaran untuk menjadikan Budaya Betawi sebagai tuan di kampungnye, hal ini bisa terwujud  bukan hanya dari kebijakan pihak Pemprov DKI Jakarta, namun semua pihak harus saling bersinergi,Nyok bareng-bareng jaga dan lestariin budaye Betawi, kalau bukan kite, siape lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi?tukas Boim

Hal senada juga di sampaikan Romli salah seorang pengamen ondel-ondel nyang sering ngider di wilayah Cengkareg, ia mengatakan sangat mendukung apapun kebijakan pemerintah tentang pelestarian budaya Betawi, namun demikian, dia tidak setuju apabila ada pihak nyang ngomong, kalau apa yang dia lakukan adalah tindakan mengemis.

“Kite ini bukan mengemis, kite ini mengamen, sambil ikut melestarikan seni tradisional Betawi yakni Ondel-Ondel, nah kalau kite di anggap ngemis, ya, tolong donk, bantuin kite, kasih lahan buat ngamen ondel-ondel, ini musti di pikirin, misalnye di taman mane kek, di sekolah mane, atau di tempat nyang kite kagak perlu ngider ngamen lagi, budaya betawi tetap hidup, kite juge kagak kelaperan,”pungkas Romli saat di temui di kawasan Cengkareng, Sabtu, 14/3/2020.

 

 


0 Comments


Leave a Comment