PENDUDUKAN DAN PENGUASAAN TANAH TANPA HAK OLEH OKNUM PENGUSAHA DI CIBINONG

By : A Firmansyah

 

Cibinong, Republik Satu.com. Tanah seluas 2,4 Hektar yang berlokasi di Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, diduduki dan dikuasai oleh seorang oknum pengusaha berinisial AK selama lebih dari 2 tahun. Penguasaan tanah tersebut diduga atas keinginan dan rencana oknum pengusaha tersebut untuk membangun kawasan hunian komersil, karena letak strategis lokasi lahan dan berada di garis tepian Telaga Cikaret serta berbatasan langsung dengan belakang Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong. Menurut warga setempat yang ditemui oleh Republik Satu.com, penguasaan lahan itu telah cukup lama dilakukan oleh AK dan perusahaannya. “lahan itu kan bersebelahan dengan lahan 2,6 Hektar yg sebelumnya telah dibeli oleh AK, makanya dia juga sekalian kuasai lahan yang di sebelahnya itu. Tapi saya tidak tahu persis apakah lahan yang 2,4 Hektar itu sudah dibeli juga oleh AK”, ujar sumber yang tak mau disebutkan namanya.

Berdasarkan informasi yang ditelusuri oleh Repulik Satu.com, AK dan perusahaan pengembang miliknya sangat antusias untuk membeli dan memiliki tanah itu. Namun alas kepemilikan dan keabsahan surat suratnya masih dalam proses pembuktian. Dari issu yang beredar, tanah tersebut merupakan milik dari ahliwaris Gito Sewoyo yang saat ini sedang melakukan upaya pembuktian. Ahliwaris Gito Sewoyo menurut informasi yang diterima redaksi tidak memiliki buku sertipikat atas tanahnya itu, bahkan foto kopinya pun tidak ada. “Setahu saya, tanah itu diakui oleh ahliwaris Gito Sewoyo, tapi mereka tidak ada bukti kepemilikannya. Pernah waktu itu mereka urus melalui Pengadilan Negeri Cibinong hanya berdasar bukti pembayaran SPPT PBB, tujuannya agar dibuatkan penetapan pengadilan untuk penerbitan Duplikat buku Sertipikatnya, namun saya dengar permohonannya telah ditolak oleh Pengadilan negeri Cibinong”, ujar Sumber itu lagi.

Saat Republik Satu.com mendatangi dan melihat langsung ke lokasi, ternyata di atas lahan tersebut telah dibangun dua unit rumah (villa-red). Lahan tersebut juga telah dipagar keliling dengan tembok arcon oleh AK dan perusahaannya. Padahal tanah / lahan tersebut belum menjadi miliknya dan belum ada peralihan hak ke atas namanya. Bagaimana mungkin  dua unit bangunan dapat berdiri dan dibangun di atas tanah yang bukan miliknya dan belum memiliki hak apappun di atas tanah itu?

Saat akan dikonfirmasi oleh Republik Satu.com, AK sering tidak ada di tempat (lokasi tanah), begitupun nomor telepon celluler miliknya sangat sulit dimintakan dari anak buah (karyawannya) yang sering berada di lokasi tersebut. (AF)


0 Comments


Leave a Comment