MIMPI LIFTING MINYAK SEJUTA BAREL PER HARI REALITASNYA JUSTRU IMPOR MINYAK SEJUTA BAREL PER HARI.

Repubuliksatu.com, Jakarta

Saat ini dan dalam kurun waktu 30 tahun mendatang, Indonesia dihadapkan pada  ancaman serius terhadap ketersediaan migas, khususnya minyak. Padahal Pemerintah sejak tahun 2003 telah menyampaikan defisit impor migas semakin lama semakin membesar. Net importir minyak ini akibat produksi minyak dalam negeri lebih rendah dari konsumsi. Jika ditahun 2017 produksi minyak sebesar 876 ribu barrel dengan konsumsi mencapai 1,628 juta barrel atau ada selisih (impor) 752 ribu barrel. Ditahun 2017 impor sekitar 858 ribu barrel dan ditahun 2018 meningkat menjadi 973 ribu barrel, adapaun di tahun 2019 datanya belum dipublikasikan.  Selain konsumsi minyak dalam negeri yang terus membesar, peningkatan impor juga terjadi karena produksi minyak dalam negeri terus mengalami penurunan, demikian disampaikan Abraham Lunggana anggota Komisi VII DPR RI kepada republiksatu.com, Selasa 14/7/2020 di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan

 “Hati-hati dengan jebakan defisit anggaran yang semakin membesar dimasa mendatang karena impor minyak yang terus membesar. Bahkan kerja keras Pemerintah dan SKK Migas untuk memproduksi 1 juta barrel minyak di tahun 2030 tidak akan ada artinya karena pada tahun 2030 diperkirakan konsumsi minyak akan mencapai 2,7 juta barrel, artinya ada defisit sebesar 1,7 juta barrel”.ungkap Abraham Lunggana anggota F-PAN dapil Jakarta III.

Menurutnya, Upaya Pemerintah untuk mendorong energi terbarukan adalah langkah yang tepat, namun membutuhkan waktu dan dalam jangka pendek ketergantungan terhadap energi migas akan dominan. Bahkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) di tahun 2050 saat kontribuasi migas secara prosentase turun menjadi 44% dari posisi tahun 2018 sebesar 63%, namun kebutuhan migas di tahun 2050 justru naik 3 kali lipat dibandingkan kondisi konsumsi migas di 2018, Artinya di tahun 2050 akan ada sekitar 4-5 juta barel kebutuhan energi yang berasal dari minyak. Sebagai wakil rakyat, selain rencana program 1 juta barrel di tahun 2030, berapa rencana produksi minyak di tahun 2050? Agar dapat dimitigasi dari sekarang bagaimana menutup GAP antara produksi dan konsumsi.

“Melihat kondisi seperti ini, saya sungguh miris dan sangat prihatin karena produksi minyak terus menurun. Ditambah tahun 2020 harga minyak sangat rendah dan wabah Covid-19, maka produksi minyak di tahun ini sebagaimana paparan SKK Migas pada RDP dengan Komisi VII DPR akan berada di kisaran 705 ribu barrel. ”, ujar anggota DPR yang akrab dipanggil Haji Lulung

Ia juga mengungkapkan bahwa Rencana produksi 1 juta barrel minyak ditahun 2030 tentu disusun dengan asumsi harga minyak dunia yang stabil atau meningkat. Bahkan pada penyusunan APBN 2020 asumsi harga minyak adalah US$ 63 per barrel. SKK Migas dan KKKS tentu merencanakan produksi 1 juta barrel berangkat dari asumsi harga minyak yang masih tinggi,

“Namun dengan harga minyak pada APBN 2020 yang direvisi di angka US$ 38 per barrel dan Covid-19 yang belum ada tanda berakhir, maka aktivitas KKKS tentu akan berkurang jauh di tahun 2020 dan tahun 2021. Berapa selisih yang harus dikejar agar di 2030 bisa mencapai 1 juta barrel”, selidik Haji Lulung.

Haji Lulung juga mempertanyakan 9 usulan stimulus hulu migas yang sudah dipaparkan SKK Migas di RDP DPR sudah mendapatkan dukungan dari Pemerintah?. Jika belum ada, maka perlu ditanyakan keberhasilan 1 juta barrel minyak di 2030, yang artinya defisit impor minyak akan semakin besar dan membebani keuangan Negara, hal ini berarti bahwa kinerja sektor hulu migas harus diikuti juga oleh hilir migas, dalam hal ini BUMN migas yakni PT. Pertamina (Persero) harus secara serius untuk dapat mewujudkan angan-angannya membangun dan memperbaiki kilang. Sudah beberapa tahun hanya melakukan perencanaan yang belum juga dilakukan eksekusi, sehingga wajar apabila mulai muncul keraguan terhadap Pertamina dalam membangun ketahanan energi nasional. Ketergantungan impor minyak yang semakin besar yang hampir pada satu juta barel per hari, tentu menjadi keprihatinan kita Bersama, karena seolah-olah kita semakin menjauh dalam kemampuan memenuhi kebutuhan migas secara nasional

“DPR tentu saja sangat mendukung upaya meningkatkan produksi migas nasional, agar cita-cita membangun ketahanan energi dapat dilaksanakan. Tapi jangan hanya pepesan kosong, diatas kertas yang tidak bisa dilaksanakan. Hulu migas yang sedang mendapatkan cobaan berat ini harus segera diselamatkan agar dapat melakukan recovery secara cepat sehingga cita-cita 1 juta barrel dapat direalisasikan. Pemerintah harus aktif merespon kebutuhan pelaku usaha industri hulu migas, atau semua akan menjadi terlambat dan menjadi bencana”, pungkas Haji Lulung.


0 Comments


Leave a Comment